GUEST LECTURE

November 24, 2008

GUEST LECTURE

MR. HAIDAR BAIGIR

 

Kreativitas dan Inovasi

 

Menjadi kreatif di zaman modern saat ini sudah menjadi sebuah kewajiban. Sebuah industri tentu akan menghadapi banyak masalah jika mereka tidak bisa memberdayakan sumber daya manusianya untuk bisa menjadi kreatif. Menjadi kreatif itu luas maknannya. Kreatif dalam berkarya, kreatif dalam berpikir bahkan berkreatif dalam menyelesaikan masalah.

Saat ini, hampir semua perusahaan bisa dibilang sudah termasuk dalam kategori “industri kreatif”. Tidak ada istilah hanya industri seni yang merupakan industri kreatif. Sebuah perusahaan penerbitan pun bisa dibilang industri kreatif karena hal-hal unik yang mereka tawarkan dan yang membuat mereka berbeda dari penerbit yang lain.

Namun seringkali dalam proses seorang individu menjadi kreatif terbentur berbagai halangan, seperti lingkungan bekerja yang tidak mendukung, atasan yang selalu menolak ide-ide kreatif, waktu ‘brilian’ yang tidak pernah muncul, dan lain-lain.

Hal-hal kreatif sering muncul saat yang tidak diduga. Contoh; Pak Haidir sering kali mendapatkan ide-ide brilian saat beliat sedang (maaf) buang air di toilet. Seorang Muslim/Muslimah sering mendapat ide saat sedang melaksanakan ibadah Sholat secara khusyu. Jadi pada intinya, “AHA” moment itu sering muncul saat tubuh dan pikiran sedang berada dalam kondisi rileks, santai dan tanpa beban. Karena pada saat inilah otak kita bisa menjangkau titik yang sebelumnya terhalang dan bisa menciptakan sesuatu yang sebelumnya belum pernah terpikir sama sekali.

Menurut Graham Wallas, inilah tahap-tahap kreativitas:

1.     Persiapan

2.     Inkubasi

3.     Intimasi

4.     Iluminasi

5.     Verifikasi

 

Belajar dati kegagalan “Thomas Alfa Edison”

Thomas alfa edidon belajar bagai mana cara menemukan lampu, selain itu dia menemukan 5000 jalan gagal membuat lampu. Cara berpikir yang dimiliki oleh Thomas Alfa Edison sangatlah positive dan tahan banting. Sehingga membawa dia kepada kreativitas tingakat tinggi.

 

Belajar dari Pianis yang tua renta.

Pada saat umur 85, pianis ini menjadi buta. Dalam pikirannya: dia tenang meski bila matanya buta  tidak masalah ketika bermain piano tidak diperlukan untuk melihat. Tetapi dia keliru pada saat main piano tetap melihat kearah piano sehingga susahlah dia bermain piano karena buta.

 

Oppurtunity

Laskar pelangi berasalkan dari luck karena dapat melihat peluang dari sebuah penerbit yang sudah bangkrut. Ada disana sebuah naskah tentang orang miskin, tempat miskin, dan sekolah miskin. Naskah tersebut gak pernah di tengok dan dilihat tetapi oleh MIZAN di buat laku banget serta filmnya laku banget.

=====================

Made by Gilang Shanahan & Rafdy Hifdhurrahman

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: